|
|
Ironis memang Indonesia dengan negara yang sebagian besar wilayahnya berupa lautan memiliki potensi kaya akan hasil perikananya, namun tidak sebanding dengan tingkat konsumsi masyarakat Indonesia untuk mengkonsumsi ikan. Tingkat konsumsi ikan laut masyarakat Indonesia saat ini ternyata masih cukup rendah. Menurut data Kementerian Perikanan dan Kelautan (KKP), pada tahun 2010 tingkat konsumsi ikan nasional masyarakat Indonesia hanya mencapai sebanyak 30,47 kg per kapita per tahun. Angka itu masih di bawah perolehan tingkat konsumsi ikan masyarakat Negara tetangga Indonesia yakni Negara Singapura dan Malaysia. Di Singapura, tingkat konsumsi ikan di negaranya mencapai 37,9 kg per kapita per tahun dan di Malaysia lebih tinggi lagi yakni sebesar 55,4 kg per kapita per tahun. Apalagi dengan negara Jepang yang mayoritas penduduknya menyukai makanan olahan hasil laut, tingkat konsumsinya mencapai 150 kg per kapita per tahun lebih besar 5 kali lipat di banding Negara Indonesia. Di Negara Jepang memang mayoritas penduduknya mengemari untuk mengkonsumsi ikan, tidak heran bila tingkat konsumsi per kapita per tahunnya lebih tinggi. Memang sungguh aneh, negara dengan sebagian besar wilayahnya adalah lautan untuk mengkonsumsi ikan saja tingkat konsumsi masyarakatnya masih jauh dari negara-negara tetangga yang sebagian besar wilahnya bukan lautan.
Bumi ini adalah ekosistem yang terbesar, di mana semua unsur hayati dan non hayati saling berkaitan, salah satu unsur hayati tersebut adalah manusia. Kehidupan di bumi tanpa kehadiran manusia tetap akan terjadi, bumi tetap berputar tanpa kehadiran manusia. Namun manusia hidupnya tergantung pada bumi dan seisinya, karena sampai sejauh ini hanya bumilah tempat yang sesuai untuk hidup manusia.
Daya Tarik
Satwa Komodo secara alamiah hanya terdapat di dalam kawasan Taman Nasional Komodo di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Saat ini sedang menjadi pembicaraan karena diusulkan untuk nominasi menjadi salah satu THE SEVEN WONDERS OF THE WORLD HERITAGE. Pesaing lainnya untuk nominasi ini adalah Kepulauan Galapagos, Sungai Amazon dengan volume air terbesar di dunia, ANGEL Falls air terjun tertinggi di Venezuela, Pulau Maladewa, Pulau Jeju di Korea Selatan, sungai bawah tanah Puerto Princesa di Filipina, Laut Mati di Timur Tengah, Ngarai terjal di Grand Canyon USA, serta Gunung Kilimanjaro di Kenya.
Menanggapi tulisan yang di muat pada majalah AGRO INDONESIA Vol. VII no 373 tgl 1- 7 Nopepember 2011 ada berita tentang “ Prospek Pembentukan Yayasan Konservasi”. Pemikiran tersebut berasal dari gagasan Kemenhut. Menurut Dirjen PHKA pembentukan yayasan tersebut bertujuan untuk mendanai konservasi dan pelestarian hutan, karena bila mengandalkan APBN tidak akan cukup. Selama ini ada dana non-APBN yeng terkumpul dari perusahaan-perusahaan di Indonesia yang dikenal dengan nama Corporate Sosial Responsibility (CSR), tetapi belum jelas dimanfaatkan untuk apa saja. Apabila CSR berminat menyumbangkan dana ke Yayasan, hal tersebut akan bermanfaat sekali untuk program konservasi dan pelestarian hutan itu.
Setiap jenis mahluk hidup ciptaan Tuhan di dunia untuk keberhasilan hidupnya memerlukan kondisi lingkungan tertentu yang diperlukan untuk kelangsungan hidupnya, yang semuanya itu telah disiapkan oleh Tuhan YME.

