Daya Tarik
Satwa Komodo secara alamiah hanya terdapat di dalam kawasan Taman Nasional Komodo di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Saat ini sedang menjadi pembicaraan karena diusulkan untuk nominasi menjadi salah satu THE SEVEN WONDERS OF THE WORLD HERITAGE. Pesaing lainnya untuk nominasi ini adalah Kepulauan Galapagos, Sungai Amazon dengan volume air terbesar di dunia, ANGEL Falls air terjun tertinggi di Venezuela, Pulau Maladewa, Pulau Jeju di Korea Selatan, sungai bawah tanah Puerto Princesa di Filipina, Laut Mati di Timur Tengah, Ngarai terjal di Grand Canyon USA, serta Gunung Kilimanjaro di Kenya.
Bagi para ahli biologi atau ahli konservasi ternyata perhatian komodo terbatas pada keelokan satwa reptil peninggalan jaman purba, yang masih tersisa dan hidup, namun akan terancam menjadi punah. Pengelolaan Taman Nasional Komodo dilakukan bersifat umum demi melindungi dan mencegah rusaknya ekosistem dan habitat dimana satwa komodo berada. Sebabnya adalah antara lain lemahnya pembinaan dan perlindungan terhadap hewan ini, tanpa mengkaji hasil penelitian mendalam tentang tingkah laku satwa ini. Begitu juga kurang data penelitian tentang satwa yang menjadi makanan atau prey komodo. Keberadaannya dieksploitir terbatas untuk menarik wisatawan. Wisatawan hanya melihat bagaimana komodo memakan kambing yang diumpan. Tetapi untuk mengkaji dan mengerti lebih dalam keberadaan dan kehidupannya di alam bebas sangat kurang. Peneliti tidak tertarik karena berbagai alasan.
Namun satu ahli Komodo yaitu mantan dosen Fakultas Biologi UGM, Suparmi Surahya (78), keahlianya tidak ada yang meneruskan. Sebagai Taman Nasional wilayah ini sudah menyandang Warisan Dunia (The Natural World Heritage Site,1987) bersama-sama Taman Nasional Ujung Kulon dengan satwa Badak Jawa. Sekarang di nominasikan sebagai one of the seven wonders. Memang keindahan alam dengan daratan dan lautan menarik untuk dikagumi.
Tenaga Ahli
Banyak anggota masyarakat merasa takjub terhadap satwa liar yang berasal dari jaman dinosaurus, jutaan tahun lampau. Perhatian masyarakat menjadi polemik pro kontra dengan usulan pemindahan komodo dari habitat aslinya ke pulau Bali, sebagai salah satu usaha pemurnian jenisnya mencegah kepunahan. Secara anatomi biologis, nama ilmiah Komodo adalah "Masasaurus komodoensis" (Suparmi Sucahya,1977-1989), bukan Varanus komodoensis, (Peter A Ouwens,1912). Komodo mirip biawak, tetapi bukan termasuk genus varanus. Varanus memang genus biawak, satwa pada era saat ini. Padahal Komodo berasal dari era 60 juta tahun Ialu. Komodo termasuk reptil karnivora terbesar dari era dinosaurus, yang tiba di pulau Flores, Rinca dan Gili Motang di Nusa Tenggara Timur sekitar 10.000 tahun lalu.
Penelitian tentang Komodo kurang mendapat perhatian sepantasnya, meskipun ketenaran nama Komodo begitu tinggi. Pengelolaan habitat dimana satwa ini hidup, seakan di eksploitir untuk kepentingan lain, yang kurang atau tidak berkaitan dengan kelangsungan kehidupan Komodo.
Kurangnya minat peneliti bidang herpertologi (ilmu tentang ampibi dan reptil) disebabkan kurangnya pendanaan dan arah kebijakan pembinaan ilmu pengetahuan. Indonesia yang memiliki 7,3% spesis reptil dunia (peringkat ke4), 270 spesies amfibi (peringkat ke- 6), 12% spesies mamalia (peringkat ke-2 dunia), 17% spesies burung (peringkat ke-5), hanya menjadikan kembagaan potensi yang menimbulkan masalah. Ada sindiran bahwa "there is no bigger problem than a big potentials"
Sebenarnya dengan kemajuan pendidikan saat ini banyak peneliti muda dan mahasiswa berminat untuk mengajukan usulan meneliti, namun selalu kecewa karena penelitian kehidupan liar (widlife) tidak termasuk dalam prioritas penelitian pemerintah. Penelitian satwa liar yang hampir punah, kebanyakan diteliti oleh orang asing. Biaya untuk riset ilmiah sangat tinggi dengan sarana yang minim. Kebanyakan keberadaannya secara alamiah lokasi jauh. Penelitian terbatas di Kebun Binatang pada aspek anatomi biologis saja, mungkin.
Riset Terapan
Dalam pengelolaan suatu Taman Nasional unsur kegiatan riset selalu dimasukan dalam program kerja. Pengaturan dan pembagian tugas secara struktural dan fungsional selalu menampung kegiatan riset seluruh obyek ekosisistem, kandungan hayati dan lain-lain (masyarakat dan budayanya). Keberadaan Taman Nasional akan memberikan pelayanan dengan memfasilitasi pendidikan dan penelitian, memperbaiki sistem perlindungan dan pengawetan (conservation) isi serta kandungan sumber hayati dalam Taman Nasional tersebut. Oleh karena itu perlu dibangun unit kegiatan riset terapan, mulai yang sederhana, yang kemudian bila memungkinkan dapat dikembangkan menjadi pusat riset satu jenis satwa tertentu yang pantas di lindungi dan dicegah kepunahannya. Jenis satwa atau flora yang menjadi idola atau "flagship" Taman Nasional tersebut.
Pusat riset terapan ini dapat dibangun sederhana namun tertib, rapi dan memiliki informasi memadai. Yang penting ada satu atau dua peneliti dan ini akan menjadi daya tarik peneliti muda untuk berdatangan, termasuk wisatawan. Biasanya pondok riset terapan tersebut harus ada yang mau commited memulai. Misalnya dari Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian Nasional dan lainnya. Sayang bisanya orang asing, seperti di Bohorok dan di Tanjung Puting. Keduanya adalah sarana untuk memancing peneliti primata khusus kera besar. Begitu juga di lokasi perlindungan telur penyu sisik pulau Menjangan dan juga di pantai Taman Nasional Meru Betiri. Tempat yang menjadi pusat penelitian serupa adalah di Taman Nasional Way Kambas untuk satwa besar seperti gajah, badak, dan harimau.
Dukungan Balai Taman Nasional
Ali Komodo harus memberikan tuntunan pengelolaan kawasan konservasi Taman Nasional secara menyeluruh, termasuk ekosistem kawasan darat dan lautan beserta kandungan hayatinya. Komodo secara alamaih mampu bertahan sejak masa silam, karena ditunjang rantai makanan alamiah. Pakan carnivora ini adalah babi hutan dan rusa, serta satwa kecil lainnya. Mugkin termasuk anak Komodo yang kecil, yang biasanya lari untuk menghindar sembunyi ke atas batang pohon.
Di luar habitat memang diakui sudah banyak Komodo beranak pinak, antara di Kebun Binatang Gembira Loka di Yogyakarta yang berhasil "melahirkan" lebih dari 144 ekor di banding Kebun Binatang di Amerika. Kalau di Amerika Komodo bisa mencapai panjang lebih dari 4 meter dan lebih berat karena overfed. Tenaga keahlian yang dibutuhkan untuk mempertahankan kehadiran Komodo bukan itu, tetapi keahlian terpadu yang dapat meningkatkan populasi Komodo di habitat aslinya sesuai daya dukung alamiah. Melindungi Komodo juga harus melindungi babi hutan dan rusa serta mamalia lain disitu, termasuk gugusan pulau dan laut disitu. Komodo adalah perenang yang kuat. Kementerian Kehutanan cq. Kepala Balai Taman Nasional Komodo seharusnya membangun sarana riset dan menawarkan program riset terapan yang terintergrasi dengan obyek wisata lain.
Kesimpulannya adalah untuk menciptakan ahli Komodo, segera benahi fasilitas riset yang sudah ada, ciptakan kerja sama penelitian terapan yang kooperatif untuk Komodo, jalin kerja sama dengan Perguruan Tinggi dan lembaga riset international terkenal, bahkan dengan korporasi global lainnya. Letakan figur riset terkenal untuk membinanya. Segera pergunakan momentum yang baik ini untuk mempromosikan kepada peneliti muda ramai-ramai mulai meneliti satwa Komodo ini.
(Ir. Soedjadi H., Ketua Pembina IWF)
